Baubau – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) tahap akhir bersama tim Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) disalah satu gedung kota Baubau, Rabu (18/10/2023).
Rapat tersebut di pimpinan langsung Kepala Dinkes bersama tim kemenkes RI disalah satu gedung kota Baubau.
yang di hadiri oleh tenaga medis Kota Baubau.
Ketua Tim Kementerian Kesehatan RI, I Ketut Suarjana mengatakan, rakor akhir yang sudah berjalan selama enam bulan dimulai sejak bulan April sampai Oktober 2023 itu merupakan program Kementerian Kesehatan untuk pendampingan tata kelola program kesehatan di Kota Baubau.
Dalam Program tersebut, kata dia, Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan Universitas Udayana yang ada di Indonesia untuk melakukan pendampingan di 45 Kota dan Kabupaten, salah satunya Kota Baubau.
“Jadi Program Kementerian Kesehatan RI kebetulan kami yang mendampingi,” kata I Ketut Suarjana saat diwawancara awak media.
Ketua Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Bali menambahkan, tujuan pendampingan yakni agar Kota Baubau dapat mengelola program Kesehatan dengan baik dimana sasaran utama yaitu memperbaiki dokumen perencanaan utamanya pada Rencana kerja (Ranja) untuk tahun 2024 dapat meningkat.
“Seperti, Standar pelayanan minimal (Spm) itu meningkat kemudian ada namanya Indikator pembangunan kesejahteraan masyarakat (Ipkm) kota Baubau bisa meningkat juga,” jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau dr Lukman mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih pada Kementerian Kesehatan RI yang sudah memilih Baubau menjadi Locus pendampingan program tata kelola dalam menyusun dengan baik sehingga melahirkan Renja di bidang kesehatan.
“Jadi, di tahun ini kita yang menjadi nomor empat untuk Kabupaten/Kota untuk daerah Sulawesi Tenggara,” kata Lukman.
Mantan Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Baubau ini berharap, dengan pendampingan tersebut perencana di kota Baubau baik di tingkat Dinas Kesehatan maupun di Puskesmas dapat mempunyai patron yang sama.
“Jadi bagaimana menyusun prioritas, bagaimana menyusun program untuk SPM kita, dan dapat menyelesaikan persoalan kesehatan di daerah kita,” pungkasnya. (Firman)












